Blogging With Love » Just a blog, but it's made by love

http://bloggingwithlove.blogspot.com/
Translate This Blog
Thursday, August 30, 2007
Links
Ft Lauderdale Condos - South Florida professional real estate services from Jacky Goff for Ft. Lauderdale Miami Miami Beach South Beach and all surrounding areas. My specialties include Oceanfront and Waterfront Properties - Condos Townhomes Residential



Labels:

(Baca Selengkapnya...)
Admin || 1:43 AM ||  189 comments|| add to del.icio.us add to Digg it! add to technorati add to Yahoo MyWeb
Monday, February 26, 2007
Season | 2007 | Last Memory
"Air matah terpedih yang tercurah di atas makam,adalah untuk kata-kata yang belum terungkapkan,
dan pekerjaan yang belum terselesaikan"


(Harriet Beecher Stowe)


Labels: ,

(Baca Selengkapnya...)
Admin || 9:42 PM ||  1 comments|| add to del.icio.us add to Digg it! add to technorati add to Yahoo MyWeb
Wednesday, February 14, 2007
Cintaku hanya pada Cinta
Kadang aku jatuh cinta. Entah pada siapa. Hanya mencinta tanpa dicintai. Rindu pada sesuatu yang tak ada. Mungkin aku hanya mencintai rasa yang tumbuh, euphoria yang membuncah, bermain bersamanya, kemudian meninggalkannya jika bosan. Namun akan selalu kembali untuk mencintai. Aku tak juga jera mencinta.

Indah. Aku cinta diriku ketika aku jatuh cinta. Jiwaku benyanyi riang. Kehangatan menyelusup masuk dalam batinku. Duniaku mekar. Harum yang selalu kucari. Matahari hanya menyinariku. Hujan tercipta untukku, dan pelangi tersenyum padaku. Hanya aku. Langkahku ringan. Tidak, aku tak melangkah ketika jatuh cinta. Aku melayang bersama angin. Hinggap di tempat yang kusuka. Berpijak di tanah yang kuinginkan. Bersua dengan euphoria kembali dan melambaikan selamat tinggal pada luka. Tinggal di sana sampai aku ingin pergi. Lagi. Dan angin kembali menghantarku. Ia sahabatku yang paling setia.

Namun aku benci ketika aku tak mencinta. Aku hampa. Jiwaku terbang bersama angin tanpa diriku. Aku sendirian. Aku bosan. Aku kesepian menunggu kapan jiwaku kembali. Luka yang kutinggalkan kembali menyapaku. Membawa sakit menusuk. Merobek hati kosong yang ditinggalkan oleh jiwaku. Hanya dingin dan pedih yang dapat kurasakan. Aku ingin kehangatan itu kembali.

Jatuh cintaku manis. Memenuhi ruang yang kosong. Memanaskan darahku. Menyejukkan batinku. Aku selalu rindu jatuh cinta. Aku ingin terus jatuh cinta. Aku tak ingin tak lagi bisa mencinta.

Hanya saja, saat ini aku tak bisa mencinta. Jiwaku tengah berkelana seorang diri. Mungkin menemui sesosok jiwa lain dalam kehampaan yang ia tinggalkan untukku. Jika angin hendak menyampaikan, aku titip salam cinta untuk jiwaku yang tengah bercengkrama. Ketika jiwaku kembali, aku ingin ia bercerita tentang rendezvous-nya. Dan suatu saat nanti, angin akan kembali mengantarku. Dipandu oleh jiwaku. Bertemu jiwa yang sering bersua jiwaku dalam kehampaan. Namun kali ini aku berjumpa tidak dalam kehampaan, melainkan dalam kehangatan cinta. Aku hinggap di sampingnya dan tak lagi pergi. Angin hanya menghantarku sekali jalan. Tak membawaku pulang. Lalu, akankah aku berhenti jatuh cinta?

(03 Januari 2003 – 11.15 AM)


Labels: , , ,

(Baca Selengkapnya...)
Admin || 3:10 AM ||  1 comments|| add to del.icio.us add to Digg it! add to technorati add to Yahoo MyWeb
About Love
Cinta..
Kata ini sering menjadi buah bibirpara perjaka dan arjuna, laki dan atau perempuan, pun tidak luput dari khayalan orang-orang tua dimana dan kapan pun mereka berada. Saat sedih, cinta banyak digugat, pun kala bahagia, acap kali cinta diagungkan. Aapakah ia mungkin makhluk kosmopolit?
Banyak orang yang harus rela mengakhiri hidupnya hanya lantaran cinta, dan tidak sedikit yang berbunga-bunga, bak mendapat energi mistic, mewarnai hidup ini, pun karena makhluk (atau bukan yah?) yang bernama cinta. Mungkinkah cinta adalah malaikat Malik yang mampu kapan saja bereincarnasi menjadi malaikat Ridwan?
Sering kali, pembicaraan serius tentang masalah idealisme, harus terhenti secara sadar (atau tidak sadar) karena tidak sengaja terdengar lontaran yang menyinggung nama cinta. Kadang tak jarang juga kita jumpai, proses negosiasi “terpaksa” berhasil karena peran makhluk tak berbentuk ini; cinta. Mungkinkah cinta itu adalah “aktivis”?

*********************
Cinta,
Siapakah dia, darimanakah datangnya, seperti apakah dia, kapankah dia muncul, untuk apakah gerangan dia hadir ? Alangkah sangat banyak tanya yang harus diungkapkan ketika menghayalkan makhluk ini, bahkan orang-orang yang mengaku pernah “mencicipi” nikmat getirnya makhluk ini juga tak satu pun mampu menjelaskan secara detail pertanyaan-pertanyaan diatas. Lalu apakah sebenarnya cinta itu ?

Menurut keawamanku;
Cinta adalah makhluk yang tak berbentuk, pun kalau memiliki bentuknya, ia akan hadir dalam wujud kedimensian yang sesungguhnya tidak mampu kita raba adanya. Ia mungkin akan maujud dalam dimensi lebih dari tiga, dan agaknya, tidaklah berlebihan jika kita mengasumsikan bahwa cinta itu ada dalam empat dimensi, sehingga dengan eksistensialnya seperti itu, akan sangat sulit untuk menyadari kehadirannya dengan kemampuan mengetahui maksimal tiga dimensi yang dimiliki oleh setiap manusia.Jadi amat wajar adanya jika dalam keseharian kita, terkadang ketaksadaran terhanyut dan terbuai oleh pesona cinta menjadi sesuatu yang lumrah.
Empat dimesi cinta, telah menempatkan entitas ini sebagai pujaan sekaligus penderitaan, ia menjelma dalam dualismenya sekaligus; memiliki sisi positif dan negatif dalam setiap kehadirannya; mewarnai jiwa dan nafsu, mengekang sekaligus membebaskan, semuanya dalam perspektif kebebasannya sendiri, tak seorang pun kan tahu, ia akan kemana dan mau dikemanakankah dia. Mungkin tak salah jika kemudian kita menyimpulkan bahwa cinta adalah makhuk misterius yang bermuka dua. (Ha…ha..ha…ha….)
Empat dimensi cinta adalah manifestasi sifat-sifat keilahian yang terbenam dalam eksistensi setiap manusia, ia adalah unsur-unsur pembentuk hakikat kemanusiaan yang ada dalam diri setiap insan. Keempatnya adalah :
1. Tanah
Maujud sifat-sifat tanah menjelma dalam bentuk pembumian, dengan tetap menekankan pada pemaknaan tanah, yang senantiasa melekat padanya karakter-karakter kesabaran, penerimaan secara adil; menumbuhkan setiap yang bertaburan diatasnya, menetralkan perbedaan dan merubahnya menjadi kemakmuran Ia adalah tempat hidup, bahkan lebih ekstrim, ia adalah kehidupan itu sendiri. Tanah adalah zat suci yang menjadi bahan dasar pembentukan manusia. Walaupun kadang ia hadir dalam dualisme eksistensialnya, membawa bahagia sekaligus petaka bagi manusia.
Memaknai cinta dengan perspektif “ketanahan”, mengantarkan pada sebuah pahaman, bahwa cinta adalah kehidupan itu sendiri, yang mencirikan dirinya pada sifat-sifat mempertemukan perbedaan menjadi persamaan yang mulia, menjadikan sabar pada setiap tarikan nafasnya, dan memakmurkan setiap yang ada dan merasakan keberadaannya. Jika pemaknaan ini tidak diletakkan pada rel yang sebenarnya, maka tidaklah mustahil cinta akan maujud dalam bentuk-bentuk negatif; petaka bagi manusia.
2. Api
Sifat-sifat api seringkali dianalogikan dengan karakter-karakter negatif; pembakaran dan pembumihangusan, atau dapat juga dipahami sebagai kemarahan, angkara, dan kondisi emosional yang senantiasa labil, ia adalah nafsu. Api menjadi bahan dasar penciptaan jin dan syaitan.
Memaknai cinta sebagai “api”, semoga mengantarkan kita pada pahaman bahwa ia adalah entitas yang sarat dengan luapan-luapan emosi, ia adalah perasaan kepemilikan universal yang utuh, sehingga jangan heran ketika cinta dapat saja membumihanguskan eksistensi kemanusiaan seseorang. Mengedepankan nafsu dapat saja membawa manusia pada sisi ketaktahuan akan diri sendiri; lupa diri jadinya. Tetapi sebenarnya, sifat-sifat api ini tidaklah selamanya berkonotasi negatif, sering juga kita menjumpai api dalam pengertian-pengertian positif, yang keberadaanya banyak membantu kehidupan, menemukan keberadaan diri manusia, membersitkan kesadaran ilahiah akan kelemahan individual. Sisi positif ini juga akan menjelma jika pemahaman akan eksistensi “cinta” didasarkan pada keinginan memaknai kehidupan secara kaffah, sehingga pengambilan makna keapian dilakukan pada sisi-sisi minimalnya, berdasarkan pepatah : “Api adalah sesuatu yang jika kecil sangatlah dibutuhkan manfaatnya, tetapi jika telah besar akan menimbulkan malapetaka yang tidak dinginkan”.
3. Angin
Karakter “angin” membawa kita pada pahaman kelembutan, ketenangan, kesejukan. Ia adalah kebutuhan dasar setiap unsur-unsur kehidupan; setiap yang hidup senantiasa membutukan adanya udara. Tanpa keberadaanya, mustahil adanya kehidupan. Sederhana tetapi fundamental adanya, walaupun tak dapat ditolak bahwa angin juga dapat menyebabkan bencana bagi kehidupan.
Memaknai “cinta” dalam perspektif “keanginan”, membawa kita pada pengertian bahwa cinta adalah kelembutan, ketenangan atau kesejukan. Bahwa setiap yang hidup pasti membutuhkan entitas “cinta” , dan hal ini tidak bisa dinafikkan adanya. Sehingga banyak orang mencari hal-hal seperti ini, sehingga sadar atau tidak, mereka sebenarnya membutuhkan cinta dan hendak terbenam didalamnya. Ketika hasrat seperti ini tidak terpenuhi, maka tak ayal ia akan menyebabkan bencana, cinta akan membangkitkan amarah yang luar biasa.
4. Air
Air adalah entitas perlambang dingin. Ia hampir mirip karakter angin, tetapi tidaklah persis sama. Air senantiasa dipersepsikan sebagai sifat-sifat penurut, tanpa dipaksa. Ia adalah simbol pengertian yang mendalam. Tanpanya, bahasa-bahasa kehidupan mustahil akan dapat diperdengarkan. Setiap orang membutuhkan kehadirannya, membasahi tanah-tanah tandus, menetesi kerongkongan-kerongkongan kering dan membawa penyadaran akan kekecilan manusia dihadapan Rabbnya. Inipun dengan tanpa menyangsikan petaka-petaka yang dapat saja diakibatkan oleh keberadaan air yang berlebihan. Mungkin kita dapat pahami, setiap yang berlebih-lebihan adalah tidak baik adanya.
Memaknai sifat-sifat air untuk mempersepsikan “cinta” akan mengantarkan pahaman pada nilai-nilai pengertian dan pemaknaan hakekat kehidupan setiap insan, sebagai makhluk yang saling membutuhkan satu dengan lainnya. Keberadaan cinta dari sudut pandang “keairan”, menyadarkan kita akan pentingnya sifat-sifat “dingin”, pengertian, dan pemahaman atas eksistensi setiap insan dalam mengambil langkah hidup , dengan tanpa menafikkan luapan-luapan negatif keberadaannya jika pemaknaannya tidak benar adanya.

Memahami cinta, hendaknya dilakukan secara general dan universal, tanpa pembedaan dan tanpa diskriminasi atas keempat dimensi diatas; Itulah barangkali yang disimbolkan oleh para arjuna pencari cinta sebagai : CINTA SEJATI
Sungguh cinta adalah makhluk yang dapat muncul dalam dualismenya sekaligus, jika tidak ditumbuhkan dalam pemaknaan manusiawi atas eksistensi empat dimensinya, baik negatif maupun positifnya
Demikianlah empat dimensi cinta yang seringkali dipahami secara parsial, apalagi jika dasar pemahaman kita berangkat dari kekecewaan-kekecewaan atas ketakmengertian cinta, atau karena luapan-luapan cinta yang tak terbendung.
Akhirnya,
Kepada para pencari cinta, semoga dapat tetap membawa dan mendapatkan cinta sejati…jangan takut ditolak, karena penolakan adalah bahasa penerimaan yang tertunda !!



Makassar, Medio Oktober 2003


Labels: , , ,

(Baca Selengkapnya...)
Admin || 3:00 AM ||  1 comments|| add to del.icio.us add to Digg it! add to technorati add to Yahoo MyWeb
Mengapa Harus Menulis?
TAK bisa dipungkiri bahwa setiap jejak peradaban selalu mendasari dirinya dari goresan-goresan sejarah¹. Untuk dapat diketahui, minimal oleh generasi berikutnya, maka pesan-pesan peradaban dan segala realitas yang berlangsung di dalamnya, sedikit banyak dituangkan melalui karya-karya yang sifatnya “dapat dibaca”. Tersebutlah adanya kitab-kitab, prasasti, relief dan gambar-gambar yang mengisahkan secara “terbatas” kisah-kisah masa lalu. Secara sederhana, dalam keterbatasan kosa kata budaya saat itu, pesan-pesan peradaban yang dimaksud disampaikan dengan cara sederhana namun sesungguhnya dimengerti benar oleh mereka.
Pun, menjadi tidak dapat dinafikkan adanya kecenderungan fitrawi manusia untuk meninggalkan jejak-jejak yang hendak bercerita tentang suka-duka dan pergolakan hidupnya. Ini terjadi karena manusia (barangkali) menuruti nisbahnya sebagai entitas sosial, yang dengannya ia niscaya membutuhkan “teman”. Kehadiran “teman” di sini bukan hanya untuk menunaikan fungsi-fungsi peradaban manusia, tetapi juga agar beban hidup – baik secara sosial, psikologis maupun spiritual – dapat ia bagi secara horizontal. Kebutuhan primordial seperti inilah yang menjadi alasan, mengapa hampir pada setiap peradaban selalu ada jejak-jejak yang seakan bercerita sesuatu hal tentang mereka. Itulah sejarah peradaban. Tiada sejarah tanpa pesan-pesan yang “terbaca”, baik melalui tulisan, lukisan maupun simbol-simbol budaya materiil lainnya.

Sesungguhnya jika kita menengok kembali hakekat penciptaan manusia, maka akan kita temukan bahwa sebagai bagian dari keseluruhan kosmos, maka kehadiran manusia di bumi adalah untuk membangun peradaban-peradaban. Yang dimaksudkan adalah bangunan interaksi budaya yang disusun oleh kesadaran eksistensial bahwa manusia bertanggung jawab atas keseluruhan hidup, bukan saja untuk dirinya sendiri, tetapi juga di luar dirinya. Karena itu, maka upaya untuk saling memahami dan saling mengerti antara satu dengan lainnya, menjadi keniscayaan. Hadirnya bahasa dan sistem komunikasi merupakan instrumen atas “tugas” kekhalifaan manusia yang antara lain kemudian diturunkan dalam wujud pesan-pesan yang terbaca.

Tugas Pertama Manusia
TURUNNYA Alquranul Karim diawali dengan kalimat instruksi Tuhan : Iqra’, yang artinya : bacalah!² Perintah Tuhan yang jika ditinjau secara mendalam bukan saja berarti leksikal untuk mengeja yang tertulis saja, tetapi juga agar setiap manusia berikhtiar untuk “membaca” (baca: memaknai) setiap fenomena di sekelilingnya. Bukankah juga yang dapat tertulis secara lahiriah melalui struktur-struktur kata – seperti yang dimaksud pada bagian pertama pemaknaan “Iqra” di atas, adalah juga bagian sederhana dari kalimat-kalimat untuk mewakili kosmos?
Dengan demikian, upaya untuk memaknai kosmos dengan segala fenomenanya, pada gilirannya membuahkan konsekuensi bagi setiap manusia untuk melakukan apa yang disebut sebagai ibadah. Dalam ungkapan sederhananya, ibadah dimaksudkan sebagai “upaya menjaga kosmos agar tidak rusak dan memperbaikinya jika telah atau sedang rusak/dirusakkan”. Karena manusia diciptakan dalam jumlah jamak, berbeda, dan berpasang-pasangan, maka untuk dapat menjaga atau memperbaiki kosmos diperlukan kapasitas manusiawi yang antara lain dapat berupa kemampuan untuk mengkomunikasikan “ikhtiar” manusia dalam bahasa-bahasa yang dapat dimengerti oleh unit kosmos lainnya.
Dalam hal ini, jika sebuah unit kosmos, misalnya seorang manusia tidak memiliki kapasitas untuk mengkomunikasikan gagasan “pemeliharaan dan atau perbaikan kosmos” kepada unit kosmos lainnya, maka kehadirannya di jagad kosmik menjadi sia-sia, tanpa arti apa-apa. Karena proses “ibadat” sebagai tugas utama manusia di bumi, mensyaratkan adanya konteks keberterimaan bukan saja antar manusia, tetapi juga dengan keseluruhan makhluk lainnya, maka interaksi sosial menjadi kemutlakan bagi setiap manusia untuk dapat dianggap ada (being). Karena itu, setiap entitas kosmik harus menyadari bahwa sebenarnya substansi keberadaannya di dunia ini adalah untuk saling berkomunikasi, menyampaikan pesan-pesan dari satu ke lainnya, menyambungkan gagasan dan ide-ide antar sesama entitas, baik dalam wujud tertulis maupun tidak tertulis/lisan. Untuk saling “membaca” satu dengan yang lainnya.

Ikhtiar Manusia atas Kosmos
DENGAN masing-masing potensi yang melekat pada diri manusia, maka harus pula disadari kemungkinan adanya perbedaan-perbedaan aktual dalam ikhtiar akibat pengaruh di luar manusia. Persinggungan “gagasan-gagasan” sedikit banyak membuka ruang bagi terjadinya interaksi ide, dalam mana prosesnya akan menstimulir kreativitas manusiawi untuk mengungkapkan sebanyak mungkin hal yang dieksplorasi. Makanya, semakin banyak pengalaman dan pengetahuan manusia akan fenomena-fenomena kosmik, akan mengkondusifkannya untuk lebih arif dalam memetakan situasi, termasuk untuk melahirkan ikhtiar-ikhtiar kosmik yang futuristik.
Dalam batasan ikhtiar, sebagaimana diperbincangkan di atas, manusia diniscayakan untuk menguasai metodologi komunikasi gagasan yang efektif, sehingga keseluruhan eksistensinya dalam jagad kosmos benar-benar teraktualkan dan bermakna bagi hidupnya. Menyampaikan gagasan, bisa dilakukan dengan dua jalan, secara tertulis maupun dengan lisan. Hanya saja, sistem komunikasi lisan cenderung mengalami keterbatasan sebagaimana halnya komunikasi tulis, tetapi dalam kadar yang lebih besar dari komunikasi tertulis. Keterbatasan bahasa akibat sebaran demografis dan kultur yang berbeda-beda, melahirkan jenis-jenis bahasa lisan yang, jika mengikuti alur sejarah banyak akhirnya mengalami kemunduran kosakata jika tidak punah sama sekali. Dalam beberapa kasus, bahasa lisan cenderung berumur pendek jika tidak didukung oleh “pengawetan” secara tertulis.
Karena itu, pilihan terakhir adalah mengembangkan bahasa tertulis, sehingga pada gilirannya, komunikasi gagasan sebagai bagian dari proses ikhtiar manusia, akan lebih banyak tersejarahkan melalui tulisan-tulisan. Di samping itu, dimensi tertulis merupakan juga dimensi materiil, sehingga eksistensinya dapat diwaruskan secara riil, berbeda dengan dimensi lisan yang cenderung imateriil, dan karenanya cenderung subjektif dalam proses pewarisannya.

Harus Menulis
TIDAK bisa tidak, setiap manusia mestilah memiliki keterampilan “menulis”, sebagai salah satu alur utama fungsi kekhalifahannya. Jika tidak mampu menulis di atas lembaran-lembaran atau media tulis materiil, setidaknya ia dapat menorehkan gagasan-gagasan kosmiknya ke dalam relung hati atau di benak pemikirannya. Karena idealnya setiap tulisan untuk dibaca, maka bagian terakhir ini memiliki konsekuensi yang mengharuskan manusia rela membuka hati atau benak pikirannya agar manusia lain bisa membaca dan mengerti gagasan-gagasannya.
Memang tidak bisa dinafikkan dependensi manusia atas konteks di mana ia berada. Jika konteks dimana manusia berinteraksi cukup kondusif, maka sesungguhnya tuntutan untuk meramaikan komunikasi gagasan menjadi semakin besar. Dalam hal ini, dengan asumsi bahwa dalam konteks tersebut terdapat lonjakan kualitas akibat kondusifitas interaksi yang ada, maka lalu lintas gagasan menjadi cukup efektif untuk memberi sumbangsih berarti bagi pemeliharaan peradaban. Salah satu konteks yang saat ini paling mungkin mewujudkan semua itu adalah dunia intelektual dan kependidikan. Eksistensi dunia seperti ini membuka ruang yang sebenarnya cukup besar untuk pengembangan budaya menulis.
Saat ini, meminjam ungkapan Asta Qauliyah (2002), “…dan menulislah, karena tulisan dapat memerdekakan. Jika tak dapat menulis di atas kertas, menulislah di dalam hati – konsekuensinya, kita harus rela membuka pintu hati, agar orang lain dapat membaca tulisan-tulisan di dalamnya….”, meniscayakan kita kembali meng-upgrade kapasitas intelektual, untuk selanjutnya menorehkannya dalam wujud tulisan-tulisan. Karena sesungguhnya, kemampuan intelektual meniscayakan kepada kita sebuah amanah untuk membumikannya dalam wujud-wujud yang lebih bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan, dan bagi kemashlahatan proses-proses dinamis kosmik. Salah satu jalannya adalah dengan menuliskan hasil transformasi gagasan-gagasan dalam benak intelektual kita, agar orang lain dapat mengetahuinya, setidaknya juga untuk “memanggil” gagasan-gagasan baru lainnya sebagai konsekuensi adanya polemik gagasan.
Jika mau jujur, sebenarnya kita, yang bergelut di dunia pendidikan dan keintelektualan, tidak layak disebut kaum intelektual jika tanpa disertai dengan kemampuan mentransformasikan gagasan-gagasan “abstrak” ke dalam bentuk riil, minimal berupa karya tertulis. Jika tidak memiliki kapasitas seperti itu, maka – untuk kelompok intelektual seperti ini – bersiaplah disebut, mengutip idiom Alwi Rahman, Direktur Lembaga Penerbitan UNHAS, sebagai : “Intelektual yang akan Mati Kafir secara Akademik”. [Semoga saja tidak] **
Satu hal yang perlu diingat, tidak ada kata “terlambat” untuk mulai (belajar) menulis!


1)Untuk hal ini, kita kembali mengurai bahwa perbedaan antara zaman pra sejarah dan zaman sejarah adalah adanya bukti-bukti peradaban yang tertulis. Zaman pra sejarah di Indonesia berakhir pada 400 SM, dimulai sejak ditemukannya prasasti (peninggalan tertulis) di eks kawasan kerajaan Hindu tertua di Indonesia, Kutai, Kalimantan Timur
2) QS. Al ‘Alaq : 1-4 merupakan wahyu Tuhan pertama yang diturunkan melalui perantaraan Malaikat Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, Makkah. Turunnya wahyu pertama ini – ditegaskan dengan surah ke dua Q.S. Al Mudatzir – menandai dimulainya fase baru penyebaran ‘Dienul Islam di jazirah Arab hingga mencapai perkembangan yang seperti sekarang.


Labels: , ,

(Baca Selengkapnya...)
Admin || 3:00 AM ||  15 comments|| add to del.icio.us add to Digg it! add to technorati add to Yahoo MyWeb


ABOUT ME
MY INSPIRATION



"Pertanda pagi adalah terang tanah yang membuat kita tidak sekadar bisa membedakan pohon ara dari pohon persik tetapi ketika kita mampu melihat wajah sesama seperti bagian diri kita. Sebelum kita mampu melakukannya, tak peduli jam berapa pun, hari masih malam!"

"Jika setiap hari adalah kelahiran,
maka tua menjadi tidak ada dalam kamus kehidupan kita"

"Hidup adalah proses menjadi. Mewujudkan segala asa yang ada dalam diri.
Batasannya adalah takdir, tetapi itu hanya berlaku setelah usaha!"

"Krisis tidak mengubah manusia. Krisis memunculkan manusia yang sebenarnya dalam diri seseorang. Jika engkau ingin tahu karakter seseorang, jangan lihat dia tatkala segala sesuatu berjalan dengan baik atau biasa-biasa saja. Bisa jadi itu hanya sebuah kemasan luar. Lihatlah bagaimana reaksi dan sikapnya ketika krisis menghampiri hidupnya. Tingkah lakunya dan kata-kata yang keluar dari mulutnya, itulah diri dia yang sebenarnya"

Recent Post
Archives
Credit

Indonesia Blog Directory

Advertising
Budapest | BuyBlogsReview | Dokter Foto | AdsGroundCare | Home Design | Bank Tesis | Lowongan Kerja | MaxTelWorks | Moldova Centre | Money Making | Paid Review | Scholarship | Beasiswa | Setengah Baya | Real Estate | Free Softwares | Penakita | Smart Search | Soutien Morila | DownloadX | Agen Dokter | Info Dokter | Flickrhotbabes